LAPORAN KESUBURAN TANAH

                                                                                                                                                 I.          PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas, yang menduduki sebagian besar permukaan bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.Tanah sangat penting karena tanah merupakan tubuh atau tempat tanaman hidup, sebagai sumber hara tanaman dan penyedia air dan udara serta tempat tegaknya tanaman. Tanah merupakan bahan yang kompleks yang terdiri dari fase padat, cair dan gas dan diantara bahan padat yang ada di dalam tanah terdapat ruangan yang berisi bahan cair atau bahan gas yang di pengaruhi temperatur, tekanan udara dan sinar matahari.

Tanah memegang peranan penting dalam usaha pertanian oleh karena itu perlu adanya pengetahuan khusus tentang hal itu untuk dapat mengelola tanah dengan baik. Karena dari penentuan tanah dengan benar dapat ditentukan jenis tanaman yang sesuai dengan lahan tersebut. Penentuan tanah dapat dilakukan dengan analisis sifat tanah, baik dari sifat kimia maupun sifat fisikanya dan juga sifat biologi dari tanah tersebut. Karena dari dasar sifat tersebut memiliki karakteristik tanah yang berlainan dan perlu perlakuan pengolahan yang berbeda pula.

Dalam mengkaji ilmu tanah, antaranya adalah fisika,biologi (isolasi bakteri serta jamur dan omission test) dan kimia tanah. Fisika tanah mempelajari sifat-sifat fisik tanah, meliputi kadar lengas tanah, tekstur, struktur, kemantapan agregat, dan konsistensi. Sedangkan kimia tanah meliputi bahan organik, rekasi tanah (pH), kejenuhan basa (KB), dan kapasitas pertukaran kation (KPK). Dengan mengetahui sifat fisika dan kimia tanah, maka dapat ditentukan pola pengelolaan tanah yang tepat akan meningkatkan kesuburan tanah.

 

 

 
   

 

  1. Tujuan Praktikum
    1. Mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah
    2. Mengukur populasi bakteri tanah dan fungi tanah
    3. Mengamati dan mengetahui morfologi mikrobia fungi dan bakteri
    4. Mengetahui tentang pengaruh pemberian pupuk kepada tanaman jagung        pada tanah entisol Colomadu/Boyolali dan alfisol Jumantono
    5. Mengetahui gejala kekahatan unsur N, P, dan K pada tanaman jagung pada pada tanah entisol Colomadu/Boyolali dan alfisol Jumantono
    6. Waktu dan Tempat

Praktikum Kesuburan Tanah ini dilaksanakan pada Hari Kamis-Jum’at tanggal 20 – 21 Mei 2010 dan hari Rabu, 26 Mei 2010, pukul 08.00 WIB s.d  selesai bertempat di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Praktikum omission tes dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Juni 2010 pukul 15.00 WIB bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dan praktikum Biologi tanah dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Juni 2010 pukul 13.00-15.00 WIB bertempat di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                  II.              TINJAUAN PUSTAKA

  1. Tanah Alfisol

Nama alfisol pertama kali diusulkan oleh Kellog (1949). Bagi golongan tanah yang meliputi semua tanah zonal di daerah tropika dan katulistiwa yang mempunyai sifat-sifat : nilai SiO2 fraksi lempung lemah, KPK rendah, lempung kurang aktif, kadar mineral primer rendah, kadar bahan larut rendah dan stabilitas agregat tinggi. Selain itu tanahnya juga berwarna merah (Kellog, 1949)

Tanah alfisol meliputi tanah yang mengalami pelapukan yang intensif dan perkembangan yang lanjut. Hal ini menyebabkan terjadinya pencucian unsur hara, bahan organik dan silica. Kejadian ini akan meninggalkan senyawa sesquioksida sebagai sisa yang mempunyai warna merah                   ( Tejo, 2005 ).

Di Indonesia, tanah alfisol umumnya berasal dari induk vulkanik, baik tuff maupun batuan beku. Tanah ini mempunyai solum tanah yang tebal dari 130 cm sampai 5 m. Sedang batas antar horison  tidak jelas. Warna merah, coklat sampai kekuningan. Kandungan organiknya berkisar antara 3-9 %, tetapi biasanya sekitar 5 %. Reaksi tanah berkisar Ph 4,5-6,5 yaitu dari asam sampai agak asam. Tekstur seluruh solum ini umumnya adalah liat. Sedang strukturnya adalah remah dan konsistensinya gembur. Kandungan unsur hara dapat dilihat dari warna. Semakin merah semakin miskin ( Sarief, 1979 ).

Alfisol kecil khusus menampung pertukaran kationnya dibandingkan tanah daerah sedang yang mewakili. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya bahan organik dan sebagian oleh sifat hidrat oksida. Mereka umumnya sangat kekurangan basa yang dapat tertukar dengan unsur lebih cepat hilang kesuburannya jika tidak dikerjakan dengan usaha pencegahan                          ( Buckman, 1992 ).

 

3

 

Penyelidikan dengan tanah-tanah merah di Italia Selatan Galdieri (1913) berkesimpulan bahwa pembentukan tanah mediteran Merah Kuning tidak mempunyai hubungan dengan batu kapur, terutama susunan mineraloginya. Dengan dasar-dasar tersebut di atas Blanck menyelidiki asal dari sifat dasar pembentukan tanah Mediteran Merah Kuning. Hasilnya sebagai berikut. Larutan-larutan besi, terutama dari sumber-sumber kapur dan sedikit berkapur atau dolomit menyusup (penetrasi) ke dalam retakan-retakandan lubang-lubang batukapur dalam mana Fe karena bersentuhan dengan Ca mengendap. Air yang besar menyebabkan besi mempunyai daya untuk menyusup ke dalam akumulasi besi pada batu kapur. Sebaliknya CO2 menyebabkan larutan Ca dan Mg dari batukapur atau dolomit sebagai bikarbonat yang terlindi hilang. Sisa-sisa perlindian adalah Si bersama-sama dengan endapan besi membentuk terra rossa (Darmawijaya, 1990).

Di Indonesia tanah ini telah lanjut mengalami pembentukan tanah dengan cara lixiviasi dan klasifikasi lemah, tekstur berat, konsistensi lekat, kadar bahan organik rendah, reaksi alkalis, derajat penjenuhan basa tinggi, horison B tekstur berwarna kuning merah, mengandung konkresi-konkresi kapur dan besi, horison eluvial umumnya tererosi. Jenis tanah ini berasal dari batuan basaltik terdapat di Jawa Timur antara lain di Baluran dan yang berasal dari batukapur di Gunung Kidul, Jawa Tengah dan nusa Tenggara (Darmawijaya, 1990).

  1. Tekstur Tanah

Yang diartikan dengan tekstur adalah susunan tanah yang bagian-bagian pasir, debu dan liat. Perbandingan bagian-bagian ini menyebabkan terbentuknya sifat fisik tanah. Saat memeriksa profil di lapangan, maka kita dapat melihat berbagai horison pembaginya. Bila mana sedikit dirasakan antara ibu jari dan telunjuk maka perbagai ubahan tekstur dapat dikenali (Gardner, 1972).

Tekstur tanah merupakan perbandingan kandungan partikel-partikel tanah primer yaitu debu, liat dan pasir dalam satu masa tanah. Partikel tanah itu mempunyai ukuran serta bentuk yang berbeda-beda yang  dapat digolongkan ke dalam tiga fraksi seperti yang disebutkan diatas. Ada yang berdiameter besar sehingga mudah untuk dilihat dengan mata telanjang tetapi ada pula yang sedemikian halusnya seperti koloidal sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (Syarief, 1985).

Terdapat tiga golongan tekstur tanah yang kita ketahui. Golongan pertama yaitu pasir. Golongan pasir meliputi tanah yang pasirnya mencapai 70% atau lebih dari berat tanah sehingga sifat tanah ini mencirikan sifat pasir.  Golongan kedua yaitu lempung. Tanah ditentukan sebagai tanah lempung jika paling sedikit mengandung 35% lempung atau 40%. Baik lempung pasiran atau lempung debuan biasanya kandungan pasir ataupun debunya lebih banyak dari lempung sendiri. Golongan yang terakhir yaitu geluh. Geluh yang ideal dapat ditentukan sebagai campuran pasir, debu dan lempung yang memiliki ringan dan berat dalam perbandingan yang sama. Umumnya geluh mempunyai kualitas-kualitas pasir dan lempung, tidak terlalu lepas, daya menahan air rendah, lekat, bergumpal, gerakan air dan udara lambat (Buckman et al, 1982).

Dikenal tiga kelas dasar tekstur tanah, yaitu pasir, lempung, dan liat. Golongan pasir meliputi tanah yang mengandung sama atau lebih dari 70% pisahan pasir (atas dasar bobot). Sifat tanah semacam ini adalah lepas dan tidak lekat. Agar tanah dapat digolongkan sebagai liat ia harus mengandung paling sedikit 35% pisahan liat dan biasanya lebih dari 40%. Kelompok lempung yang terdiri dari berbagai sub golongan sangat sulit untuk diterangkan. Lempung secara ideal terdiri dari pasir, debu, dan liat yang memperlihatkan sifta-sifat ringan dan berat dalam perbandingan yang sama. (Anonima, 2010)

Tekstur tanah berkaitan erat dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasan, kemudahan olah, kesuburan dan produktivitas tanah pada tanah daerah geografi tertentu (Hakim et al., 1986).

Di laboratorium, tekstur tanah umumnya ditetapkan melalui dua metode, yaitu : metode pipet (kurang teliti) atau metode hydrometer ”Bouyoucos” (lebih teliti), yang keduanya didasarkan pada perbedaan kecepatan jatuhnya partikel-partikel tanah di dalam air dengan asumsi bahwa kecepatan jatuhnya partikel yang berkerapatan (density) sama dalam suatu larutan akan meningkat secara linear apabila radius partikel bertambah secara kuadratik (Darmawijaya, 1990).

  1. Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan yang berbeda-beda (Hardjowigeno, 2007).

Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas total dan distribusi ukuran pori ada dua faktor. Faktor yang pertama  adalah distribusi ukuran partikel. Jika partikel besar lebih banyak maka total pori sedikit, tapi ukuran besar. Faktor yang kedua adalah kandungan bahan organik Bahan organik merupakan bahan yang bisa meningkatkan total porositas (Rachman, 2005).

Struktur tanah dapat dikatakan baik apabila di dalamnya terdapat penyebaran ruang pori-pori yang baik, yaitu terdapat ruang pori di dalam dan diantara agregat yang dapat diisi air dan udara dan sekaligus mantap keadaannya. Agregat tanah sebaiknya mantap dan tidak mudah hancur oleh adanya gaya dari luar seperti pukulan butiran air hujan. Dengan demikian tidak mudah atau tahan erosi sehingga pori-pori tanah tidak gampang tertutup oleh partikel-partikel tanah halus sehingga infiltrasi tertahan dan run off menjadi besar. Struktur tanah yang jelek tentunya sebaliknya dengan keadaan tersebut di atas (Sarief, 1989).

Di dalam tanah terdapat sejumlah ruang pori-pori yang penting, karena ruang ini diisi oleh air dan udara yang berguna bagi tanaman. Terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi jumlah pori-pori tanah. Struktur tanah adalah ikatan antar partikel-partikel atau fraksi-fraksi primer tanah membentuk suatu susunan gumpalan disebabkan adanya perekat       (Koenings, 1963).

Yang dinamakan struktur tanah adalah penyusunan partikel tanah primer seperti pasir, debu dan liat. Pasir, debu dan liat tersebut  membentuk agregat yang satu dengan yang lain. Agregat ini dibatasi oleh bidang belah yang lemah     (Yunus , 1986).

 

  1. Lengas Tanah

Sebagai akibat rusaknya pori-pori tak kapiler, meningkatnya jumlah pori kapiler yang jenuh air dan menurunnya kerapatan tindak semula maka tanah yang di lumpurkan menahan lebih banyak air pada tegangan kelengasan tanah tertentu  dari pada dalam keadaan tak di lumpurkan. Pada tanah yang di lumpurkan, perubahan kesarangan dan daya tambat air mengakibatkan pola kehilangan kelengasan tanah yang menurun secara tajam (Soepardi, 1993).

Kohesi di dalam agregat tanah menurun apabila kadar kelengasan tanah meningkat. Setiap agregatnya menjadi lunak dan mungkin menyerupai atau mungkin juga tidak, bergantung pada kemantapannya. Kohesi antara agregat sangat rendah pada kadar kelengasan yang rendah, meningkat dengan cepat bila kadar kelengasan meningkat, mencapai puncak kira-kira pada kapasitas lapang dan menurun dengan tajam bila kadar kelengasannya mendekati kejenuhan (Koenings, 1963).

Kadar lengas maksimum tanah merupakan jumlah air maksimum yang dapat ditampung tanah setelah hujan besar turun. Pada keadaan ini, air tertahan oleh tanah dengan kekuatan pF = 0 atau terjadi pada keadaan :

  1. Di permukaan tanah setelah hujan lebat atau irigasi
  2. Pada tanah bawah (subsoil) yang jenuh air
    1. Dalam lapisan tanah 5 – 10 mm di atas lapisan subsoil yaitu apabila ada air kapiler yang  naik. (Foth, 1991).

Salah satu gatra penting dalam pemerian keadaan lengas tanah adalah mengetahui jumlah air yang dapat disekap oleh sistem tanah dan dipasokkan ke tanaman pada berbagai titik keseimbangan atau tetapan lengas.  Beberapa tetapan lengas yang dicoba untuk memerikan gatra tanah adalah : koefisien higroskopis, air kapiler dan titik layu permanent. Selain itu juga pada kapasitas lapang (Poerwowidodo, 1992).

Jumlah air yang ditahan oleh profil tanah pada keadaan kapasitas lapang, tekstur dan struktur sebagai horison menentukan pengaruh keempat faktor tersebut. Tanah berpasir mempunyai kemampuan infiltrasi dan hantaran hidrolit tingi serta daya menahan air rendah, sehingga pergerakan air jenuh lebih mudah dan cepat. Sebaliknya tanah bertekstur halus umumnya mempunyai perkolasi air rendah karena penyumbatan pori oleh pembengkakan koloid tanah, serta adanya udara yang terjepit.

(Hakim et al,. 1986).

  1. Konsistensi Tanah

Mengolah tanah diantara BC dan BL tidak baik karena selain struktur peka terhadap kerusakan juga memerlukan tenaga untuk mengolah banyak karena atanah berkonsistensi lekat (melekat pada alat-alat pengolah tanah). Kecuali pada pengolahan tanah sawah yang mana tanahnya justru diolah pada waktu tanah berkonsistensi lumpur. Struktur memang rusak, tetapi tenaga mengolah ringan (Anonimb, 2008).

Berdasarkan kadar airnya, tanah digolongkan dalam 3 kondisi yaitu, cair, plastis, dan padat. Umumnya tanah berbutir halus secara alamiah berada dalam kondisi plastis. Batas atas dan bawah dari rentang kadar air, dimana tanah masih bersifat plastisitas disebut batas cair dan rentang kadar air itu sendiri, didefinisikan sebagai indeks plastisitas (Yuswar, 2006).

Tanah yang mengandung lempung tinggi, kandungan bahan organik tinggi dan mengandung lempung silikat akan bersiat plastis. Sedangkan tanah yang pasiran-sequioksida lebih lemah sifat plastisnya (Winarso, 2005).

Konsistensi yang dihubungkan dengan kadar air, oleh Atterberg :

  1. Lekat, dicirikan tanah dapat melekat atau dapat menempel pada benda yang mengenainya.
  2. Liat atau plastis, dicirikan sifat yang elastis, atau mampu diubah bentuknya dengan mudah.
  3. Lunak, dapat dicirikan dengan sifat gembur. keras, dengan mudah dapat dicirikan keras, pecah jika dibelah (Sarief, 1985).

Konsistensi dipengaruhi oleh kadar air tanah. Faktor-faktor lain yang menyumbang adalah bahan-bahan penyemen agregat tanah, bentuk dan ukuran agregat, serta tingkat agregasi. Jadi, konsistensi berkaitan erat dengan faktor-faktor yang menentukan struktur tanah, seperti takstur, macam-macam lempung, dan BO. Tanah bertekstur sama dapat berbeda konsistensinya karena berbeda macam lempungnya (Tejoyuwono, 1998).

  1. Reaksi Tanah (pH Tanah)

Reaksi tanah biasanya dinyatakan dengan pH tanah yang nilainya berkisar antara 0 – 14 dan dirumuskan sebagai – log [H+] . Untuk tanah pertanian nilai pH berkisar antara 4 – 9. Semakin tinggi konsentrasi H+ dalam tanah maka makin asam reaksi tanahnya  atau semakin rendah nilai pHnya. Demikian juga sebaliknya. Bila konsentrasi H+ seimbang dengan konsentrasi OH dalam larutan tanah maka reaksinya netral. Pada umumnya suasana netral untuk pertanian berkisar antara 6,5 – 7. Keasaman tanah dapat dibedakan menjadi keasaman aktual yang disebabkan oleh H+ bebas dalam larutan tanah dan keasaman potensial yang disebabkan H+ dan Al3+ dalam suatu kompleks jerapan. Jika analisis pH dengan menggunakan air sebagai pelarutnya maka nilai pH yang diperoleh adalah pH aktual dan bila garam KCl yang digunakan nilai  pHnya  adalah pH potensial (Sarief, 1986).

Reaksi tanah diukur dan ditulis dengan pH sama dengan –log [H+], berkisar antara 10-1 sampai 10-12 mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah pH tanah. Ini berarti semakin asam reaksi tanah                   (Tan, 1991).

Penentuan pH tanah dapat dilakukan dengan 2 macam cara, yaitu:

  1. secara elektrometer; dengan menggunakan pH meter
    1. secara colorimeter, dengan menggunakan kertas pH            (Suntoro et al, 1996).

Pengetahuan tentang reaksi tanah penting sekali. Hal ini dikarenakan  banyak digunakan dalam usaha untuk mengetahui respon tanah terhadap pemupukan, untuk mengetahui kebutuhan kapur. Selain itu juga digunakan  dalam usaha perbaikan sifat kimia dan fisika tanah (Suntoro, et al, 1996).

Tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pH nya. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan kapur ke dalam tanah. Pada tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH nya dengan penambahan belerang  (Anonimc, 2008).

  1. Kapasitas Pertukaran Kation (KPK)

Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah (Madjid, 2007).

Pengertian Kapasitas Pertukaran Kation Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KPK merupakan jumlah total kation yang dapat diperpertukarankan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KPK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah. Beberapa Istilah KPK Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KPK dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 1. KPK koloid anorganik atau dikenal sebagai KPK liat tanah, 2. KPK koloid organik atau dikenal sebagai KPK bahan organik tanah, dan 3. KPK total atau KPK tanah. KPK Koloid Anorganik atau KPK Liat KPK liat adalah jumlah kation yang dapat diperpertukarankan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Nilai KPK liat tergantung dari jenis liat, sebagai contoh: a. Liat Kaolinit memiliki nilai KPK = 3 s/d 5 me/100 g b. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KPK = 10 s/d 40 me/100 g c. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KPK = 80 s/d 150 me/100 g. d. Liat Vermikullit, memiliki nilai KPK = 100 s/d 150 me/100 g. KPK Koloid Organik KPK koloid organik sering disebut juga KPK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat diperpertukarankan pada permukaan koloid organik yang bermuatan negatif. Nilai KPK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KPK koloid anorganik. Nilai KPK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g KPK Total atau KPK Tanah KPK total merupakan nilai KPK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat diperpertukarankan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid organic (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik (liat) (Kaf, 2009).

Tanah-tanah yang memiliki kadar koloid yang tinggi atau kadar bahan organik yang tinggi mempunyai KPK lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanah yang memiliki kadar koloid dan bahan organik yang sedikit       (Winarso, 2005).

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah didefinisikan sebagai kapasitas tanah untuk menyerap dan mempertukarkan kation. KTK biasanya dinyatakan dalam miliekuivalen per 100 gram (Tan, 1991).

Faktor yang mempengaruhi KTK :

  1. Reaksi tanah (pH)
  2. Tekstur tanah
  3. Jenis mineral liat
  4. Bahan Organik
  5. Pengapuran dan pemupukan  (Tejo, 2005).
  6. Bahan Organik

Bahan organik tanah merupakan penimbunan, terdiri sebagian dari sisa dan sebagian dari pembentukan baru dari sisa tumbuhan dan hewan. Bahan ini adalah sisa yang tidak statis yang mengalami serangan dari jasad-jasad renik tanah. Karena itu bahan ini merupakan bahan transisi tanah dan terus-menerus diperbaharui dengan penambahan sisa-sisa tumbuhan tingkat tinggi. Bahan organik yang dikandung tanah hanya sedikit, kurang lebih hanya 3 sampai 5 % dari berat tanah dalam top soil tanah mineral yang mewakili. Akan tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah dan kehidupan jauh lebih besar dibanding dengan kandungan yang rendah itu. Pertama, bahan organik berperan sebagai pembentukan butir (granulator) dari butir-butir mineral, yang menyebabkan terjadinya keadaan gembur pada tanah produktif. Disamping itu bahan organik merupakan sumber pokok dari dua unsur utama, fosfor dan sulfur dan merupakan satu-satunya sumber nitrogen (Buckman, 1982).

Pengaruh terhadap sifat-sifat fisika tanah, bahan organik mendorong peningkatan daya menahan air tanah dan mempertinggi jumlah air yang tersedia untuk kehidupan tumbuhan. Humus adalah kata yang digunakan bila berhubungan dengan bahan organik yang telah mengalami perombakan secara ekstensif dan tanah sampai perubahan jauh. Satu dari ciri-ciri yang khas dan sangat penting dari humus adalah kandungan nitrogennya yang biasanya bervariasi dari 3 sampai 6 %, konsentrasi nitrogennya mungkin sering lebih rendah atau lebih tinggi. Dan kandungan karbon umumnya kurang variasi dan diperkirakan menjadi 58 persen (Foth, 1991).

Kandungan bahan organik terbukti berperan sebagai faktor kunci utama yang mampu mengendalikan mutu tanah secara kimia, fisika dan biologi.  Secara kimia, komposisi bahan organik ( yang dianalisis dengan 13C NMR ) adalah cukup kompleks dengan berbagai gugusan, seperti : Alkil, N-alkil, O-Alkil, Acetat, Aromatik, Fenolik, Karboksil.   Selain itu, pengaruh bahan organik terhadap kimia tanah adalah dapat menurunkan pH tanah karena bertindak sebagai donor proton, dapat mengikat logam beracun dengan membentuk khelat kompleks karena mempunyai gugus karboksil dan fenolik bermuatan negative, dapat meningkatkan KTK karena memberikan muatan negative dan dapat sebagai sumber hara bagi tanaman dari hasil mineralisasi (Markusanda & Kurnia, 2000).

Kadar bahan organik adalah merupakan suatu ciri tanah yang berguna mempengaruhi kemantapan struktur tanah, kegiatan mikrobia, dan kesuburan tanah. Sumber asli dari bahan organik adalah jaringan tumbuhan, dimana pengaruhnya relative sangat besar bila dibandingkan dengan jumlahnya yang sangat sedikit dalam tanah.  Hewan juga dapat dianggap sebagai sumber bahan organik kedua bila mereka mereka menyerang jaringan tumbuhan sehingga memberikan hasil sampingan dan meningggalkan bagian tubuh mereka sebagai peredaran hidupnya. (Buring, 1983)

Hingga saat ini petani masih lebih banyak menggunakan pupuk anorganik atau pupuk buatan untuk mencukupi kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Hal ini disebabkan karena pupuk anorganik mudah digunakan, kadar tinggi, sangat larut, dan lebih murah untuk persatuan kadar unsure hara. Akan tetapi kelemahannya: 1) petani harus beli, 2) sering tidak tersedia dipasaran saat dibutuhkan, dan 3) bisa membahayakan atau mencemari tanah dan air apabila penggunaanya berlebih atau tidak tepat. Pemberian pupuk anorganik pada lahan-lahan pertanian secara intensip dan jangka panjang menunjukkan adanya kecenderungan kadar bahan organic tanah menurun, struktur tanah rusak dan pencemaran badan-badan air (lingkungan). Kondisi ini jika berlanjut akan menurunkan kualitas tanah dan kesehatan lingkungan (Winarso,2005).

  1. N, P, dan K pada Tanah dan Tanaman

Unsur N, P, dan K adalah unsur esensial yang dimana tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Dan jika kekurangan unsur ini dapat menganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Untuk menambah kesediaan unsur-unsur ini dalam tanah dapat dilakukan dengan jalan pemupukan dengan pupuk-pupuk yang memiliki atau mengandung unsur-unsur ini baik N, P, dan K. Besarnya N, P, dan K dalam tanah di pengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pH tanah (Sudarsono, 2004).

Sumber unsur nitrogen sebenarnya cukup banyak terdapat di atmosfir, yaitu lebih kurang 79,2 persen dalam bentuk N2 bebas, namun demikian unsure N ini baru dapat digunakan oleh tanaman setelah mengalami perubahan kebentuk yang terikat yang kemudian dalam bentuk pupuk. Sumber utama dari Nitrogen berasal dari N2 atmosfir yang terikat. Untuk pembuatan pupuk adalah nitrogen dalam bentuk amoniak (Anonimd, 2009).

Phosphor (P) hampir tidak bersifat mobil (mudah berpindah). Akibatnya pupuk P tetap berada di tempat semula (tidak jauh dari tempat pemberian pupuk), sehingga harus diberikan lebih banyak pada pupuk dasar dan usahakan dekat dengan area perakaran. Pemberian pupuk P sebaiknya dengan cara pembuatan tugalan atau larikan disamping tanaman, sebab jika dengan cara penebaran (ditaburkan saja) pemanfaatan pupuk P cenderung tidak efektif (Prawirowardoyo et.all., 1987).

Fosfor dan kalium dapat diberikan baik pada musim penghujan maupun musim kemarau. Untuk tanaman semusim dan tanaman tahunan yang baru ditanam,pemberian secara sebar dan dicampur ke tanah hingga kedalaman 10 hingga 15 cm. Sedangkan untuk tanaman tahunan yang sudah besar disebar di sekitar tanaman dan mencampurkannya dalam tanah, akan tetapi dihindari untuk merusak perakaran (Winarso,2005).

Rekomendasi dosis pemupukan pada tanah-tanah yang lebih subur adalah makin sedikit bahkan tidak sama sekali. Hal ini disebabkan oleh tanah yang makin subur respon pemupukan makin rendah sehingga peningkatan hasil atau keuntungan yang didapatkan karena pemupukan semakin kecil. Demikian juga apabila suatu tanah yang dosis pemupukan makin ditingkatkan,maka peningkatan hasil oleh setiap satuan dosis pemupukan juga semakin rendah (Follet et all.,1981).

  1. Issolasi Bakteri dan Fungi

     Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka ( Anonime, 2010)

Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki selaput inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar, lipopolisakarida – terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik)          (Hugenholtz, 1998).

Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya (Atlas, 1995)

Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan “jamur belah” (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, yang akan dibahas dalam artikel ini, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Bentuk umum jamur biasanya adalah seperti payung, walaupun ada juga yang tampak seperti piringan. Pengertian terakhir ini berkaitan dengan nilai ekonomi jamur sebagai bahan pangan, sumber racun, atau bahan pengobatan (Anonimf, 2010)

  1. Omission Test pada Tanaman Jagung

Hara yang berbentuk organik akan diubah dahulu menjadi anorganik agar dapat diserap oleh tanaman. Ketersediaan hara juga dipengaruhi oleh ketersediaan suatu unsur bagi tanaman. Ketersediaan unsur lain tersebut dapat mempengaruhi pH tanah. Tanaman dapat menyerap unsur hara secara optimal pada kisaran pH netral karena pada saat itu semua unsur yang diperlukan tanaman tersedia dalam kondisi yang cukup bagi kebutuhan tanaman (Anonimg, 2008).

Tanaman merupakan organisme yang dalam kehidupannya membutuhkan asupan unsur hara atau nutrisi. Hara tersebut sebagian diperoleh dari hasil serapan akar tanaman, sehingga hampir seluruh hara tanaman berada di dalam tanah dalam bentuk larutan tanah. Hara yang dapat diserap oleh tanaman adalah hara dalam bentuk anorganik              (Sulaiman dan Eviati, 2005).

Tanaman yang kekurangan unsur Nitrogen ditunjukkan dengan gejala pertumbuhannya lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati. Klorosis di daun tua dan semakin parah akan terjadi juga pada daun muda. Tanda tanaman kekurangan P yaitu daun menjadi nampak tua warnanya menjadi merah kecoklatan. Tepi daun, cabang dan batang terdapat warna kecoklatan yang lama-lama menjadi kuning. Tanaman yang kekurangan Kalium akan cepat mengayu atau menggabus, hal ini disebabkan kadar lengasnya yang lebih rendah. Kekurangan Kalium daun mengerut atau mengeritingterutama pada daun tua, daun akan berwarna ungu lalu mengering lalu mati   (Nugroho, 1986).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                          III.            ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

 

  1. Analisis Tekstur Tanah
    1. Alat
      1. Neraca analitik ketelitian 2 desimal
      2. Mesin pengaduk khusus dengan piala logam
      3. Silinder sedimentasi atau gelas ukur 500 ml
      4. Pengaduk khusus suspense
      5. Alat hydrometer tanah tipe 152 H
      6. Timer atau stop watch
      7. Bahan
        1. Ctka lolos 2 mm
        2. Larutan pendispersi natrium pirofosfat (Na4P2O7.10h2o) 4%
        3. Cara Kerja
          1. Menimbang ± 25 g ctka halus < 2 mm dalam gelas piala 100 ml, kemudian menambahkan 10 ml larutan pendispersi pirifosfat
          2. Memindahkan kedalam piala logam dan mengencerkannya dengan air bebas ion sampai 200 ml
          3. Mengaduk dengan mesin pengaduk kecepatan tinggi selama 5 menit
          4. Setelah 5 menit, pindahkan larutan kedalam gelas ukur 500 ml (melakukan pembilasan), mengencerkannya dengan air bebas ion sampai 500 ml, kemudian mengaduknya dengan pengaduk khusus dan dibiarkan semalam

  Pengukuran fraksi campuran debu + lempung

  1. Keesokan harinya, mengaduk setiap suspensi tanah dalam gelas ukur selama 30 detik dengan pengaduk
  2. Menyiapkan stop watch untuk pengukuran fraksi campuran debu dan lempung

17

 

Mengocok suspensi hingga homogen dengan pengaduk (cukup 20 detik), kemudian memasukkan hydrometer tanah kedalam suspensi dengan perlahan dan hati-hati

  1. Mencatat angka skala hydrometer yang berimpit dengan permukaan suspensi, tepat setelah 40 detik (pembacaan 1). Angka tersebut adalah jumlah gram fraksi campuran debu dan lempung dalam 1 liter suspensi.
  2. Mengukur larutan blangko untuk koreksi suhu fraksi debu dan lempung

Pengukuran fraksi lempung

  1. Membiarkan suspensi selama 2 jam agar diperoleh suspense lempung kemudian mengukurnya dengan alat hydrometer
  2. Mencatat angka skala hydrometer yang berimpit dengan permukaan (pembacaan 2). Angka tersebut adalah jumlah gram fraksi lempung dalam 1 liter suspensi. Mengukur larutan blangko untuk koreksi suhu fraksi lempung.

Perhitungan

Dalam 25 gr tanah kering udara terdapat :

1)      Tanah kering 105o C =

2)      Bahan Organik =

3)      Pasir + debu + lempung =  –

4)      Lempung = () g

5)      Debu = { – } g

6)      Pasir = (25 fk-1) – (25C 100) – (A-a) gr

  Keterangan :

A = fraksi campuran debu – lempung (g/l)

a  = bangko pada pembacaan 1

B = fraksi lempung (g/l)

b  = blangko pada pembacaan 2

C = persen BO (%C-organik × 1,724)

100 = faktor konversi ke %

  1. Analisis Struktur Tanah
    1. Bobot Volume (BV) / Bulk Density
      1. Alat

a)        Cawan pemanas

b)        Lampu Bunsen

c)        Pipet ukur

d)       Benang

e)        Timbangan analitik

f)         Thermometer

  1. Bahan

a)        Tanah bongkah asli (ring sampel)

b)        Air

c)        Lilin

  1. Cara Kerja

a)        Mengikat bongkah tanah dengan benang dan menimbangnya (a g)

b)        Mencairkan lilin sampai suhu lilin 600oC, kemudian mencelupkan tanah dalam cairan lilin sampai terbungkus sempurna

c)        Menimbang tanah berlilin (b g)

d)       Mengisi tabung ukur sampai volume tertentu (p cc)

e)        Memasukkan tanah berlilin ke tabung ukur

f)         Menambahkan air untuk memudahkan pencatatan (q cc)

g)        Mencatat air yang ditambahkan (r cc)

Bobot volume =

  1. Bobot Jenis (BJ) / Particle Density
    1. Alat

a)        Piknometer

b)        Thermometer

c)        Timbangan analitik

d)       Kawat pengaduk

e)        Corong kaca

f)         Table BJ

g)        Tissue

  1. Bahan

a)        Ctka diameter 2 mm

b)        Aquadest

  1. Cara Kerja

a)        Mengambil piknometer kosong dan kering kemudian menimbang beserta tutupnya (a g)

b)        Mengisi piknometer dengan aquadest sampai penh kemudian menutupnya hingga ada aquadest yang keluar dan mengeringkan aquadest yang menempel pada bagian luar piknometer dengan tissu dan menimbangnya (b g)

c)        Mengukur suhu dengan thermometer dan menentukan BJ-nya dengan melihat tabel BJ sesuai suhu yang diukur (BJ1)

d)       Membuang air dan membersihkannya hingga kering kemudian mengisi piknometer dengan tanah ± 5 gram dan memasang tutupnya serta menimbangnya (c g)

e)        Mengisi piknometer yang telah ditimbang dengan aquadest dengan separuh volume

f)         Mengaduknya sampai tidak ada gelembung udara dan membiarkannya semalam dalam keadaan piknometer tertutup sumbatnya

g)        Membuang gelembungnya lalu mengisi piknometer dengan aquadest sampai penuh dan menimbang (d g)

h)        Mengukur suhu dengan thermometer dan menentukan BJ nya sesuai tabel (BJ2)

Bobot jenis (BJ) =

 

  1. Porositas

n = (1 – ) × 100%

  1. Analisis lengas Tanah
    1. Lengas Tanah Kering Angin
      1. Alat

a)        Botol timbang

b)        Oven

c)        Eksikator

d)       Penimbang

  1. Bahan

a)        Bongkahan

b)        Contoh tanah kering angin (ctka) diameter 0,5 mm dan       2 mm

  1. Cara Kerja

a)        Masukkan botol penimbang dan tutupnya kedalam oven selama 30 menit, kemudian mendinginkannya kedalam eksikator dan menimbang botol penimbang dengan tutupnya   (a g)

b)        Memasukkan ctka kurang lebih 2/3 tinggi botol penimbang lalu menimbangnya (b g) dan masing-masing ctka dilakukan 2 kali ulangan

c)        Memasukkan kedalam oven dengan keadaan terbuka bersuhu 105}oC selama 4 jam

d)       Mendinginkan botol penimbang dan isinya pada eksikator dalam keadaan tertutup, kemudian melakukan penimbangan setelah dingin (c g)

e)        Melakukan perhitungan kadar lengas

Kadar lengas tanah =  × 100%

Nilai c – a adalah berat contoh tanah kering mutlak (ctkm)

 

  1. Kapasitas Lapangan
    1. Alat

a)        Botol semprong

b)        Kain kassa

c)        Statif

d)       Gelas piala

  1. Bahan

a)        ctka berdiameter 2 mm

  1. Cara Kerja

a)        Membungkus atau menyumbat salah satu ujung botol dengan kain kassa

b)        Memasukkan ctka kedalam botol semprong dengan bagian yang tertutup kain kassa sebagai dasarnya

c)        Memasang botol semprong pada statif dan diatur seperlunya

d)       Merendam selama kurang lebih 48 jam

e)        Mengangkat semprong dan membiarkan air menetes sampai tetes terakhir

f)         Mengambil contoh tanahnya yang berada pada 1/3 bagian tengah semprong, mengukur kadar lengasnya sebanyak 2 kali ulangan

  1. Lengas Maximum (Kapasitas AirMaksimum)
    1. Alat

a)        Cawan tembaga yang dasarnya berlubang

b)        Mortar porselin

c)        Saringan berdiameter 2 mm

d)       Timbangan analitik

e)        Spatel

f)         Oven

g)        Eksikator

h)        Gelas arloji

i)          Kertas saring

j)          Petridish

  1. Bahan

a)        Ctka berdiameter 2 mm

b)        Aquades

  1. Cara Kerja

a)        Menggerus ctka menjadi butir primer dan menyaringnya menjadi berdiameter 2 mm

b)        Mengambil cawan berlubang yang dasarnya diberi kertas saring yang sudah dibasahi

c)        Menimbang denga gelas arloji sebagai alasnya (a g)

d)       Memasukkan ctka yang telah digerus dalam cawan tembaga kurang lebih 1/3 nya lalu diketuk-ketukkan, menambahkan lagi ctka sampai 2/3 lalu diketuk-ketukkan lagi, kemudian menambahkan lagi ctka sampai penuh, mengetuknya lagi dan meratakannya

e)        Memasukkan cawan tersebut kedalam perendam kemudian diisi air sampai permukaan air mencapai ± ½ tinggi dinding cawan, perendaman 12 jam (setelah direndam permukaan tanah akan cembung minimal rata/mendatar)

f)         Mengangkat cawan dan membersihkan sisi luarnya lalu meratakan tanah setinggi cawan dengan diperes secara hati-hati dan menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji (b g)

g)        Memasukkan kedalam oven bersuhu 105oC selama 4 jam, lubang pembuangan air pada oven harus dibuka

h)        Memasukkan kedalam eksikator kemudian menimbang dengan diberi gelas arloji ( c g)

i)          Membuang tanah, membersihkan cawan dan kertas saring kemudian menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji   (d g)

j)          Menghitung kadar lengasnya

Kadar lengas maksimum tanah =  × 100 %

  1. Konsistensi Tanah
    1. Alat
      1. Botol timbang
      2. Colet
      3. Botol pemancar
      4. Eksikator
      5. Casse grande
      6. Cawan penguap
      7. Oven
      8. Timbangan analitik
      9. Spatel
      10. Lempeng kaca
      11. Papan kayu
      12. Bahan
        1. Ctka
        2. Aquadest
        3. Cara Kerja
          1. Batas cair

1)      Membuat pasta tanah dengan cara mencampur ctka  dengan air pada cawan penguap

2)      Mengambil pasta tanah secukupnya dan memasukkannya kedalam cassagrande dan meratakan dengan co;et setebal 1 cm, lalu membelah pasta tanah dengan spatel dalam keadaan tegak lurus sampai pada dasar cawan

3)      Mengatur tinggi rendah cawan cassagrande pada meja penumpunya, kemudian memutar alat cassagrande dengan kecepatan 2× per detik dan menghitung jumlah ketukan hingga pasta bertemu sepanjang 1-2 cm

4)      Mengulangi sebanyak 4 kali (2× untuk >10-<25  ketukan dan 2× untuk >25-<45 ketukan)

5)      Mengambil tiap pasta tanah hasil ketukan dan menganalisis KL-nya

6)      Mencari log ketukan kemudian dianalisis dengan regresi (nilai BC = KL pada ketukan 25)

  1. Batas Lekat (BL)

1)        Membuat gumpalan dengan pasta tanah sebesar bola pingpong

2)        Menusuk gumpalan dengan spatel sedalam 2,5 cm dengan kecepatan0,5 detik

3)        Bila tanah menempel 1/3 batas spatel (± 8 mm) maka tanah disekitar tusukan diambil dan menganalisis KL-nya

4)        Melakukan ulangan sebanyak 2 kali

  1. Batas Gulung (BG)

1)      Menggiling-giling pasta tanah diatas lempeng kaca hingga terbentuk silindris (3 mm) dan mulai retak-retak. Bila belum retak-retak menambah sedikit tanah lalu menggilingnya lagi

2)      Menghitung kadar lengas tanah tersebut dengan analisis lengas

3)      Mengubah sekali lagi sebagai duplo

  1. Batas Berubah Warna (BBW)

1)      Meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elips dengan ketinggian pada bagian tengah ± 3 mm dan makin ketepi makin tipis

2)      Membiarkan semalam dan setelah ada beda warna diambil tanahnya selebar 1 cm (warna terang dan gelap) untuk dianalisis KL-nya

  1. Analisis pH tanah
    1. Alat
      1. Flakon
      2. Pengaduk kaca
      3. pH meter
      4. Timbangan

 

  1. Bahan
    1. Ctka  0,5 mm sebanyak 10 gr
    2. Reagen H2O (pH actual), KCl (pH potensial), dan NaF (analisis alofan), dengan perbandingan 1 : 2,5
    3. Cara kerja
      1. Menimbang ctka sebanyak 5 gram dan memasukkan kedalam dua buah flakon
      2. Menambahkan aquadest 12,5 cc untuk analisa Ph H2O, 12,5 cc KCl untuk pH KCl, dan 12,5 cc Naf untuk pH NaF
      3. Mengaduk masing-masing hingga homogen selama 5 menit
      4. Mendiamkannya selama 30 menit kemudian diukur
      5. Analisis Pertukaran Kation
        1. Alat
          1. Erlenmeyer
          2. Alat penggojog
          3. Kertas saring
          4. Corong
          5. Pipet ukur
          6. Labu destilasi
          7. Destilator
          8. Biuret dan statif
          9. Timbangan
          10. Bahan
            1. Ctka  0,5 mm
            2. NH4COOH 1 N
            3. Alkohol 95%
            4. NaCl 10%
            5. NaOH 45%
            6. HCl 0,1 N
            7. H3BO3 2%
            8. Indicator campuran (BCG dan MR)
            9. Aquadest
            10. Butir Zn
            11. Cara Kerja
              1. Menimbang ctka  0,5 mm 10 g
              2. Memasukkannya dalam Erlenmeyer, menambahkan ammonium asetat dan menggojog selama 30 menit kemudian menyaring
              3. Mencuci dengan ammonium asetat 8 kali masing-masing 10 cc
              4. Filtrat disisihkan (jangan dibuang) untuk penentuan KB dan ctka dicuci lagi dengan alkohol 10 cc sebanyak 5 kali kemudian filtrat dibuang
              5. Mencucinya dengan NaCl 10% 10 cc sebanyak 8 kali dan memindahkan filtrat kedalam tabung destilasi
              6. Mengencerkan dengan aquadest sampai volume 150 cc
              7. Menambahkan 5 cc NaOH 45% dan 2 butir Zn
              8. Melakukan destilasi dengan penampung 10 cc  H3BO3 2% dan menambah 2 tetes indikator campuran
              9. Menunggu hasil destilasi sampai volume 40 cc
              10. Menitrasi dengan 0,1 N HCl sampai warna kehijauan
              11. Mencatat cc HCl yang habis untuk titrasi

KPK =   100 cmol (+)/kg

  1. Bahan Organik
    1. Alat
    2. Labu takar 50 ml
    3. Gelas piala 50 ml
    4. Gelas ukur 25 ml
    5. Pipet drop
    6. Pipet ukur
      1.    Bahan
      2. Ctka Ø 0,5 mm
      3. K2Cr2O7 1 N
      4. H2SO4 pekat
      5. H3PO4 85 %
      6. FeSO4 1 N
      7. Indikator DPA
      8. Aquadest
        1.   Cara Kerja
          1. Menimbang ctka Ø 0,5 mm 1 gram dam memasukkan ke dalam labu takar 50 ml
          2. Menambahkan 10 ml K2Cr2O7 1 N
          3. Menambahkan dengan dati-hati lewat dinding 10 cc H2SO4 pekat setetes demi setetes. Hingga menjadi berwarna jingga. Apabila warna menjadi kehijauan menambah K2Cr2O7 dan H2SO4 kembali dengan volume diketahui (melakukan dengan cara yang sama terhadap blangko)
          4. Mengocok dengan memutar dan mendatar selama 1 menit lalu mendiamkan selama 30 menit
          5. Menambah 5 ml H3PO4 85% dan mengencerkan dengan aquadest hingga volume 50 ml dan mengocok hingga homogen
          6. Mengambil 5 ml larutan bening dan menambah 15 ml aquadest serta indikator DPA sebanyak 2 tetes, kemudian mengocoknya hingga homogen
          7. Menitrasi dengan FeSO4 1 N hingga warna hijau cerah
          8. Kadar N, P dan K pada tanah
            1. N total tanah
              1. Bahan

a)      Contoh tanah kering angin diameter 0,5 mm 1 gr

b)      H2SO4 pekat

c)      CuSO4 dan K2SO4 (perbandingan 20 : 1)

d)     Aquadest

e)      H2SO4 0,1 N

f)       Indicator methil red

g)      NaOH pekat

h)      Butir Zn

  1. Alat

a)      Gelas arloji

b)      Timbangan analitik

c)      Tabung Kjeldahl

d)     Erlenmeyer

e)      Buret

f)       Labu destilasi

  1. Cara kerja
    1. Destruksi

1)        Menimbang dengan gelas arloji bersih atau kertas contoh tanah kering angin berdiameter 0,5 mm 1 gram

2)        Memasukkan ke tabung Kjeldahl dan menambahkan 6 ml  H2SO4 pekat

3)        Menambahkan campuran serbuk K2SO4  dan CuSO4  1 sendok kecil

4)        Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna.

  1. Destilasi

1)        Setelah larutan dalam tabung Kjeldahl dingin, menambahkan aquades 30 ml dan menuangkan dalam tabung destilasi (tanah tidak ikut), tambahkan 2 butir Zn dan 20 ml NaOH pekat.

2)        Mengambil larutan penampung  10 ml (merupakan campuran H2SO4 0,1 N dan 2 tetes metyl red ) pada beker gelas atau erlenmenyer (larutan penampung sudah dibuatkan).

3)        Melakukan destilasi hingga volume larutan penampung 40 ml.

 

 

 

 

  1. Titrasi

1)        Mengambil larutan penampung 10 ml dan melakukan titrasi pada larutan dalam bekerglass hasil destilasi, dengan NaOH 0,1 N sampai warna hampir hilang atau kuning bening.

2)        Melakukan prosedur di atas tanah blanko

3)        Menghitung nilai N total tanah

            N total tanah = x 100%

  1.  P tersedia Tanah
    1. Bahan

a)        Ctka 0,5 mm

b)        Larutan 0,025 N HCl

c)        Larutan NH4F 0,03 N

d)       Amonium Molibdat

e)        Larutan SnCl2

f)         Larutan standard P

  1. Alat

a)        Gelas ukur

b)        Timbangan analitik

c)        Tabung reaksi

d)       Corong

e)        Kertas whatman

f)         Erlenmeyer

g)        Pipet

h)        Spektrofotometer

  1. Cara kerja

a)        Mengencerkan larutan standar P (dilakukan co-ass)

b)        Menimbang 1 gram tanah kering angin kemudian memasukkanya ke dalam flankon.

c)        Menambah 7 ml larutan Bray 1 (0,025 N HCl + 0,03 N NH4F lalu mengojognya selama 1 menit.

d)       Menyaring dengan kertas whatman sampai jernih

e)        Mengambil 2 ml filtrat dan menambah 5 ml aquades

f)         Menambah 2ml amonium molybat hingga homogen

g)        Menambah 1 ml SnCl2 dan menggojognya (sebelum ditembak)

h)        Mengukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 660nm.

              ppm P=

  1. K tersedia tanah
    1. Bahan

a)      Ctka 0,5 mm 2,5 gr

b)      Lithium klorida 0,05 N

c)      Ammonium asetat 1 N pH 7

  1. Alat

a)      Gelas ukur

b)      Gelas reaksi

c)      Timbangan analitik

d)     Kertas saring

e)      Corong

f)       Flamefotometer

  1. Cara Kerja

a)        Menimbang contoh tanah 2,5 gram

b)        Menambah amonium asetat 25 ml dan menggojog selama 30 menit

c)        Menyaring ekstrak dan mengambil 5 ml

d)       Menambah 5 ml LiCl2dan menjadikan volume 50 ml dengan aquades

e)        Menembak dengan flamefotometer

           K Tersedia Tanah =x100

  1. Isolasi Bakteri dan Jamur
    1. Alat
      1. Otoklaf
      2. Pemanas/kompor
      3. Erlrnmeyer
      4. Jarum inokulasi
      5. Jarum ose
      6. Lampu bunsen
      7. Petridish
      8. Tabung reaksi
      9. Kapas
      10. Kertas
      11. Pipet drop
      12. Gelas ukur
      13. Bahan
        1. Media PDA
        2. Media NA
        3. Tanah perlakuan
        4. Garam fisiologis
        5. Alkohol
        6. aquadest
        7. Cara kerja
          1. Mensterilkan peralatan yang akan digunakanC
          2. Menyiapkan larutan garam fisiologis
          3. Melakukan isolasi bakteri dan fungi dari tanah perlakuan
          4. Melakukan isolasi bakteri dan fungi dari tanah dengan cara :

1)        Memasukkan 10 gram bahan ke dalam 90 ml larutan garam fisiologis, lalu menggojognya hingga homogeny (pengenceran10-1)

2)        Mengambil 1 ml larutan 10-2, lalu memasukkan ke dalam 9 ml garam fisiologis, lalu menggojognya hingga homogeny (pengenceran 10-2)

3)        Melalukan hal yang sama hingga pengenceran 10-5

4)        Mengisolasi bakteri dan fungi menggunakan media PDA dan NA, dengan cara sebagai berikut :

a)      Untuk bakteri : mengabil 0,1 ml larutan 10-2 dan menuangkan ke dalam media NA, lalu meratakan larutan tersebut ke seluruh media menggunakan dryglassky steril

b)      Melakukan hal yang sama hingga pengenceran 10-5

c)      Untuk fungi : mengambil 0,1 ml larutan 10-2 dan menuangkan ke dalam media PDA, lalu meratakan larutan tersebut ke seluruh media. Melakukan hal yng sama sampai pengenceran 10-5

d)     Menginokulasi isolat-isolat tersebut pada suhu kamar dengan posisi petridish terbalik, selama 4-12 hari

e)      Menghitung jumlah koloni yang tumbuh menggunakan hand colony counter.

  1. Omission test
    1. Alat
    2. Ayakan
    3. Plastik
    4. Polybag
    5. Timbangan analitik
    6. Kertas label
      1. Bahan
      2. Pupuk
      3. Tanah alfisol
      4. Pasir
      5. Benih jagung
        1. Cara kerja

         persiapan

  1. Mengeringkan tanah pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung
  2. Mengayak tanah dengan ayakan 5 mm
  3. Menimbang tanah masing-masing ± 3-5 kg sebanyak perlakuan dan ulangan (24) dengan tanah alfisol Jumantono (S2)
  4. Menyiapkan label dan dimasukkan ke dalam plastik agar tidak basah
  5. Menyiapkan pupuk untuk perlakuan :

1)   M0 : Urea 100 kg/ha, SP-36 50 kg/ha dan KCl 25 kg/ha

2)   M1 : SP -36 50 kg/ha dan KCl 25 kg/ha

3)   M2 : Urea 100 kg/ha dan KCl 25 kg/ha

4)   M3 : Urea 100 kg/ha, SP-36 50 kg/ha

  1. Mencampur tanah dan pupuk, sehingga memperoleh perlakuan sebagai berikut :

S1M0

S1M1

S1M2

S1M3

S1M0

S1M1

S1M2

S1M3

 

  1. Memasukkan pasir pada bagian dasar polybag lalu memasukkan tanah yang sudah diperlakukan sebanyak 3 kg
  2. Memasukkan benih jagung ke dalam setiap polybag dan menyirami polybag dengan air hingga kapasitas lapang
  3. Menjaga kondisi polybag agar tetap pada kapasitas lapang.

 

 

 

 

      Pengamatan

  1. Mengamati tanaman setelah kurang lebih 30-40 hari setelah tanam (vase vegetatif maksimal), khususnya pada bagian batang dan daunnya untuk mengetahui kekuranan unsur hara
  2. Mengamati tinggi tanaman pada masing-masing perlakuan
  3. Membandingkan data-data yang diperoleh antara satu perlakuan dengan perlakuan lain khususnya dalam satu jenis tanah yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL, ANALISIS HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Analisis Tekstur Tanah
    1. Hasil Pengamatan

Tabel 4.1.1 Analisis Tekstur Tanah

Simbol

Nilai

a

A

b

B

C

Fk

0 gr/1

40 gr/1

0 gr/1

31 gr/1

6,422%

1,128

Sumber : Laporan Sementara

Keterangan :

a    = fraksi campuran debu-lempung

A   = blangko pembacaan 1

b    = fraksi lempung

B   = blangko pembacaan 2

C   = persen bahan organic (%C organic x 1,724)

Fk  = faktor koreksi kadar air

  1. Analisis Hasil Pengamatan

Debu         %         =  

                              =  

                              =  

                              =

                              = 21,889 %

Lempung %           =  

                              =  

                              =  

                                          =75,398 %

Pasir          %         = 100% – (% debu + % lempung)

                              = 100% – (21,889 % + 75,398 %)

                              = 100% – 97,287%

= 2,713 %

      Jumlah                   = % debu + % lempung + % pasir

                                          = 21,889 % + 75,398 % + 2,713 %

                                          =100%

  1. Pembahasan

Tekstur tanah merupakan perbandingan antara fraksi atau partikel primer tanah berupa pasir (sand), debu (silt) dan lempung (clay). Satuan tekstur tanah dinyatakan dalam persentase (%). Pada dasarnya tekstur tanah dapat menentukan sifat-sifat tanah misalnya porositas tanah, daya tahan air dalam tanah, laju infiltrasi air ke dalam tanah, ketersediaan air dalam tanah, kemudahan tanah untuk diolah serta kandungan dan ketersediaan unsur hara dalam tanah.

Analisis tekstur tanah dibedakan menjadi analisis kualitatif yang dilakukan di lapangan serta analisis kuantitatif yang dilakukan di laboratorium. Pada praktikum kali ini dilakukan analisis secara kuantitatif yang dilakukan dengan analisa mekanis yaitu dengan metode hydrometer bouyoucos. Metode ini didasarkan atas perbedaan kecepatan jatuh partikel-partikel di dalam air.

Berdasarkan analisis hasil pengamatan diperoleh fraksi pasir pada tanah tersebut adalah 2,713%, fraksi debunya adalah  21,889%  sedangkan fraksi lempung yang terkandung dalam tanah adalah 75,398%. Dari hasil tersebut didapatkan bahwa partikel lempung paling besar komposisinya dalam menyusun tanah ini  yang dilanjutkan partikel debu kemudian partikel pasir. Dari angka-angka tersebut dapat ditentukan macam tekstur tanah pada tanah ini dengan segitiga tekstur tanah atau triangular USDA yaitu lempungan. Tekstur lempungan menunjukkan bahwa terdapat tiga partikel tanah yaitu debu, pasir dan lempung dengan partikel lempung yang dominan.

 Tekstur tanah merupakan salah satu sifat fisika tanah yang sulit mengalami perubahan, karena untuk membentuk satu fraksi tunggal tanah dibutuhkan lima faktor, yaitu bahan induk, organisme, topografi, iklim dan waktu. Tekstur tanah yang paling baik untuk pertanaman adalah tekstur geluhan dimana perbandingan antara partikel tanah pada tekstur geluhan adalah seimbang (pasir : 45%, debu : 30%, lempung : 25%).

Suatu  tanah dapat dianalisis tekstur apakah yang paling dominan pada tanah tersebut dan berapa persentase kandungan masing-masing partikel tanah tersebut. Analisis tekstur tanah dibedakan menjadi dua, yaitu analisis secara kualitatif yang dilakukan di lapangan dan analisis secara kuantitatif yang dilakukan di laboratorium. Analisis kualitatif yang dilakukan di lapangan biasanya menggunakan metode perasaan, sedangkan analisis kuantitatif dibedakan menjadi dua metode yaitu metode pemipetan dan metode hidrometer. Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode hidrometer, yaitu dengan cara larutan tanah digojog hingga homogen kemudian didiamkan, setelah itu dimasukkan hidrometer untuk mengukur kepekatan larutan dengan dua kali pembacaan. Tekstur tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik tanah, partikel atau fraksi-fraksi yang menyusun tanah, dekomposisi bahan organik dan proses pelindian.

 

 

 

 

 

  1. B.     Analisis Struktur Tanah
    1. Bobot Volume (BV)
      1. Hasil Pengamatan

Tabel 4.2.1 Hasil Analisis Bobot Volume Tanah

Data

Nilai

a

b

p

q

r

2,19 gr

2,387 gr

10 ml

15 ml

3,5 ml

Sumber : Laporan Sementara

Keterangan :

a          = Berat bongkah tanah dan benang pengikat

b          = Berat tanah berlilin

p          = Volume air sebelum pencelupan tanah

q          = Volume air setelah pencelupan tanah

                r          = Volume air yang ditambahkan

  1. Analisis Hasil Pengamatan

Bobot Volume =

                                          =

                                          =

                                          =

                                          =

                                          = 0,76

 

 

 

 

  1. Pembahasan

Struktur adalah ikatan antar partikel atau fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat. Di dalam tanah terdapat sejumlah ruang pori-pori yang penting, karena ruang ini diisi oleh air dan udara, yang berguna bagi penyediaan air dan udara bagi tanaman. Terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi jumlah pori-pori tanah. Jumlah pori-pori di tanah idealnya sekitar 50%, akan tetapi umumnya pori-pori tanah berkisar antara 30% – 60%.

Struktur tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara tidak langsung berupa perbaikan peredaran air, udara dan panas, aktivitas jasad hidup tanah, tersedianya unsur hara bagi tanaman, perombakan bahan organik dan mudah tidaknya akar tanaman dapat menembus tanah lebih dalam. Tanah yang berstruktur baik akan membantu dalam faktor pertumbuhan tanaman secara optimal, sedangkan tanah yang berstruktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Struktur tanah dikatakan baik jika didalamnya terdapat penyebaran ruang pori-pori yang baik dan agregat tanahnya mantap sehingga tidak mudah hancur oleh adanya gaya dari luar seperti terkena air hujan.

Dari analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dalam tanah alfisol tersebut memiliki berat volume 0,76 gr/cc. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah alfisol  sebagai bahan analisis struktur tanah mempunyai daya aerasi dan drainase yang cukup tinggi, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat berkembang dengan baik karena kebutuhan akan air dan udara yang diperlukan tercukupi.

 

 

 

  1. Bobot Jenis
    1. Hasil pengamatan

Tabel 4.2.2 Hasil Analisis Bobot Jenis Tanah

Data

Nilai

a

b

c

d

BJ1

BJ2

19,382 gr

43,980 gr

24,285 gr

46,825 gr

31

31

Sumber : Laporan Sementara

Keterangan :

a          = Berat piknometer kosong

b          = Berat piknometer berisi aquades

c          = Berat piknometer berisi tanah

d          = Berat piknometer berisi tanah dan aquades

BJ1         = Pengukuran pertama

BJ2       = Pengukuran kedua

  1. Analisis hasil pengamatan

Bobot Jenis     =

                                          =

                                          =

                                          =

                                          =

                                          = 54,86 gr/cc

 

 

 

  1. Pembahasan

Struktur tanah menunjukkan ikatan antar fraksi-fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat baik organik maupun anorganik. Dalam pengamatan struktur tanah dilakukan penghitungan BV (Bobot Volume) dan BJ (Bobot Jenis) untuk mengetahui persentase porositas tanah atau persentase pori-pori yang ada dalam tanah tersebut.

BJ dicari dengan membandingkan antara bobot partikel tanah dengan volume partikel (tanpa pori-pori). Untuk mengetahui bobot partikel tanah dilakukan dengan mongering-ovenkan tanah. Sedangkan untuk mengetahui volume partikel dilakukan dengan menjenuhkan pada piknometer dengan cairan kemudian diaduk hingga udara dalam pori tanah keluar dan diisi dengan cairan tersebut. Untuk penghitungan BV hampir sama dengan BJ namun bedanya pada BV volume pori-pori juga dihitung. Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa tanah alfisol tersebut memiliki bobot jenis sebesar 54,86 gr/cc. Ini berarti tingkat kerapatan tanahnya tinggi atau pori-porinya kecil.

  1. Porositas
  2. Hasil pengamatan

Tabel 4.2.3 Data Komponen Porositas

Data

Nilai

BV

BJ

0,76 gr/cc

54,86 gr/cc

Sumber : Laporan Sementara

  1. Analisis Hasil Pengamatan

                                 n       =

                              =

=

= 98,6%

  1. Pembahasan

Dari analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa tanah alfisol ini memiliki tingkat porositas yang tinggi, yaitu 98,6%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tanah ini mempunyai porositas yang baik. Tanah yang mempunyai porositas yang baik, dalam pori makro akan terisi udara yang cukup dan dalam pori mikro juga akan terisi cadangan air yang mencukupi, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat berkembang dengan baik karena kebutuhan akan air dan udara yang diperlukan tercukupi.

  1. C.    Analisis Lengas Tanah

            1. Lengas Tanah Kering Angin

a.  Hasil pengamatan

Tabel 4.3.1 Data Komponen Lengas Tanah Kering Angin

  • Ø tanah

perlakuan

a (gr)

b (gr)

c (gr)       

Bongkahan

I

II

56,450

55,161

57,140

55,886

13,3

16,66

  • Ø 0,5 mm

I

II

61,051

60,645

62,680

61,115

57,679

56,115

  • Ø 2 mm

I

II

58,582

57,533

59,417

57,790

54,417

52,783

Sumber : Laporan Sementara

Keterangan :

a = berat botol timbang + tutup

b = berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven

c = berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven

b.   Analisis Hasil Pengamatan

Kadar lengas tanah       = 

 

 

1)        

  1. =

= 19,51 %

  1. =

= 3,3%

Rata – rata                 = 11,405%

2)        

  1.              =

= 30%

  1. =

= 8,8 %

Rata – rata                          = 19,4%

3)         Bongkahan

  1.              =

= 13,3%

  1.              =

= 16,66%

Rata – rata bongkahan                        = 14,98%

          

                  \  0,5 mm > 2 mm > bongkahan

                      19,4%  > 11,40%> 16,66%

 

Kapasitas Lapang =

                          =

                          =

                          = 29,77%

KL2                 =

                          =

                          =

                          = 64,86%

KL rata-rata      =

                          =

Lengas Maksimum =  x 100%

                                            =

                                            =

                                            = 51,967%

  1. Pembahasan

Kadar lengas dalam tanah merupakan kekuatan untuk mengikat air dalam pori-pori tanah dengan gaya ikat atau longgar tergantung dari jumlahnya. Gaya ikat akan menentukan gerak atau aliran zat tertentu serta ketergantungan dari tumbuh-tumbuhan. Kadar lengas memiliki hubungan dengan kation dekomposisi bahan organik dan kegiatan mikroorganisme dalam tanah.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar lengas, yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Faktor sifat tanah  yang berpengaruh terhadap kadar lengas antara lain tekstur, struktur dan bahan organik. Ukuran partikel tanah juga mempengaruhi kadar lengas. Semakin kecil ukuran partikelnya maka semakin besar luas permukaannya sehingga semakin besar pula kadar lengasnya, begitu juga sebaliknya.

Dalam melaksanakan praktikum ini menggunakan lengas tanah kering angin kali ini menggunakan ctka (contoh tanah kering angin) berukuran 0,5 mm, 2 mm, dan bongkah. Lengas tanah diperoleh dengan pengeringan ctka dalam oven pada suhu 105-110°C hingga beratnya konstan. Pengamatan kadar lengas ini dilakukan dengan mengoven tanah yang dimasukkan ke dalam botol timbang selama 4 jam. Hasil KL pada ctka 0,5 mm, 2mm, dan bongkah secara berturut-turut yaitu 19,4%, 11,40% dan 16,66%. KL terbesar pada pengamatan dengan ctka 0,5 mm karena ukuran partikelnya lebih kecil, maka luas permukaannya pun lebih besar, sehingga tegangan permukaan untuk menyerap air lebih besar dan kadar lengasnya pun lebih tinggi.

Kandungan air pada kapasitas lapang tergantung pada faktor berikut ini :

  1. Tekstur tanah

Tanah Inseptisol didominasi oleh tekstur lempungan, oleh karena itu kadar lengas kapasitas lapang lebih besar dibanding debu atau pasir. Hal ini terjadi karena luas permukaan lempung yang kecil dan strukturnya yang halus akan lebih dapat mengikat air sehingga kemampuan untuk mengikat air akan lebih besar.

  1. Struktur tanah

Struktur tanah yang didominasi pori mikro kadar lengas kapasitas lapangnya lebih tinggi daripada didominasi oleh pori makro. Hal ini terjadi karena pada pori mikro jarak antar pori lebih dekat sehingga kemampuan untuk menyerap air lebih tinggi.

  1. Bahan organik

Bahan organik mempengaruhi kadar lengas kapasitas lapang dalam tanah. Semakin banyak bahan organik dalam tanah semakin tinggi pula kadar lengas kapasitas lapang tanah. Hal ini terjadi karena bahan organik dapat merekatkan agregat dan mengikat air dalam pori-pori tanah.

 

 

 

  1. Jenis koloid

Koloid lempung menyandang muatan negative sehingga kation-kation tertarik oleh partikel lempung. Kation-kation tersebut diikat pada permukaan lempung. Kebanyakan dari kation-kation ini bebas menyebar di dalam fase larutan dengan difusi. Diantara kation-kation tersebut taraf jerapannya berbeda-beda.

  1. Macam kation yang diserap

Kation yang terjerap dalam tanah memegang peranan penting dalam penyerapan hara tanaman, kesuburan tanah, resistensi hara dan pemupukan. Kation yang terjerap umumnya tersedia bagi tanaman melalui pertukaran dengan ion H+ yang di hasilkan oleh respirasi akar tanaman. Untuk kation-kation yang dapat mencemari air tanah dapat tersaring oleh kegiatan jerapan koloid tanah.

Kadar lengas maksimum tanah merupakan jumlah air maksimal yang dapat ditampung tanah setelah hujan deras turun atau saat tanah dalam keadaan jenuh air. Tanah dalam keadaan jenuh dapat terjadi karena semua pori-pori tanah baik makro maupun mikro dalam keadaan terisi oleh air. Kadar lengas maksimum tanah dapat ditentukan dengan menggunakan cawan tembaga yang bawahnya berlubang. Pada kadar lengas maksimum tanah, tanah tersebut pada umumnya dijenuhi oleh air gravitasi, air kapiler, dan air higroskopis. Dari hasil praktikum ini diperoleh hasil kadar lengas maksimum untuk tanah alfisol sebesar 51,967 %.

 

 

 

 

 

 

  1. D.    Konsistensi Tanah
    1. Hasil Pengamatan
    2. Batas Cair

            Tabel 4.4.1 Batas Cair

No

Ketukan

Log ketukan ((x)

KL (y)

xy

x2

1.

10-25

1,28

1,38

62,36

66,74

79,82

92,10

1,6384

1,9044

2.

25-45

1,48

1,61

65,42

82,96

96,82

133,56

2,1904

2,5921

 Sumber : Laporan Sementara

Keterangan :

x = log ketukan

y = kadar lengas

n =2

  1. Batas Lekat (BL)

Tabel 4.4.2 Batas Lekat

percobaan

a

b

c

I

II

48,9

49,6

44,9

51,2

49,5

50,6

Sumber : Laporan Sementara

  1. Batas Gulung (BG)

Tabel 4.4.3 Batas Gulung

percobaan

a

b

c

I

52,140

53,563

53,170

Sumber = Laporan Sementara

 

 

 

 

 

  1. Batas Berubah Warna (BBW)

Tabel 4.4.4 Batas Berubah Warna

percobaan

a

b

c

I

II

31,5

32,7

32,5

33,9

32,1

33,4

Sumber : Laporan Sementara

  1. Analisis Hasil Pengamatan
    1. Batas Cair (BC)

x          =

y          =

b          =

                              =

                              =

                              =

                              =

Mencari a à          y = a + bx

69,37 = a + 79,91.1,4375

69,37 = a + 114,87

        a = – 45,5

Posisi x dan y  :

x à( y = 0 ) untuk y = a + bx

                                                 0 = -45,5 + 79,91 x

                                                 x = 0,569

y à( x = 0 ) untuk y = a + bx

                                                 y = -45,5+0

                                                 y = -45,5

log 25 = 1,39

BC = y = a + bx

                              = -45,5 + (79,91.1,39)

                              = 65,5749

 

 
   

 

 

 

           

 

                   
 

65,5749

 

 

– – – – – – – – – – – –

 

     

BC

 

 
 
     
 
   

-45,5

 

 
   

y

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 4.4.1 Batas Cair

  1. Batas Lekat

KL1     =

=

=

= 66,6%

KL2     =

                              =

                              = 60%

Rata-rata KL =

                                        =

  1. Batas Gulung

KL       =

                        =

                        =

                        = 37,86%

  1. Batas Berubah Warna

KL1     =

                        =

                        =

                        = 66,67%

 

 

KL2     =

                        =

                        =71,4%

Rata – rata KL BBW =

Harkat BBW >45 adalah sangat tinggi

  1. Pembahasan

Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik-menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dengan air) dengan berbagai kelembaban tanah.

Konsistensi dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah, yaitu :

  1. Tekstur tanah
  2. Kadar bahan organik
  3. Kadar koloid tanah
  4. Sifat / jenis koloid tanah
  5. Kelengasan tanah

Pada praktikum ini dilakukan pengamatan terhadap konsistensi yang meliputi : batas cair (BC), batas lekat (BL), batas gulung (BG) dan batas berubah warna (BBW). Batas cair (BC) atau Batas Plastisitas Atas (BPA) merupakan kandungan lengas saat tanah menjadi bersifat setengah mencair atau mulai mengalir (menggelincir) akibat bekerjanya gaya-gaya dan tidak mampu mempertahankan bentuk asalnya.

Batas cair merupakan kandungan lengas pada saat tanah menjadi bersifat setengah mencair atau mulai mengalir atau menggelincir akibat bekerjanya gaya-gaya dan tidak mampu mempertahankan bentuk asalnya. Dan setelah dianalisis didapat persamaan regresi : y = -45,5 + (79,91.1,39) dengan menggunakan log 25 yang di dapat dari batas ketukan dari kedua perlakuan yaitu antara ketukan >10<25 dan >25<45. Pada praktikum kali ini, didapat hasil BC sebesar 65,519. Hal ini menunjukkan bahwa tanah alfisol mempunyai harkat batas cair yang  sangat tinggi.

Batas lekat (BL) adalah kandungan lengas pada saat tanah mulai melekat pada benda asing. Analisis BL ini dengan cara membuat gumpalan dari pasta tanah sebesar bola pingpong, kemudian ditusuk dengan spatel. Kemudin menghitung kadar lengas dari tanah yang menempel pada spatel tersebut. Dari hasil analisis, maka dapat diketahui rata – rata KL batas lekatnya adalah . Pada pengamatan ini, nilai batas lekat lebih kecil daripada batas cair, hal ini berarti bahwa tanal alfisol kadar plastisitasnya tidak terlalu besar.

 Batas gulung (BG) merupakan kandungan lengas tanah pada saat mulai berubah dari gembur menjadi konsistensi plastis. Batas gulung dibuat dengan cara menggiling-giling pasta tanah di atas lempeng kaca hingga mulai retak-retak, kemudian dihitung kadar lengasnya. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa KL batas gulung tanah adalah 37,86%.

Batas berubah warna (BBW) adalah keadaan lengas tanah tepat pada saat terjadi perubahan warna dari gelap menjadi cerah. Batas berubah warna didapat dengan meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elips, dengan bagian tengah memiliki ketinggian kurang lebih 3 mm dan makin ke tepi makin tipis. Setelah itu mengamati sampai setelah ada beda warna dan diambil tanahnya selebar 1 cm, dengan 0,5 cm mengandung warna terang dan 0,5 cm mengandung warna gelap. Kemudian dianalisis kadar lengasnya. Pada saat kondisi berubah warna biasanya tanah dalam kondisi mulai kritis terhadap air, maka apabila terdapat tanaman yang tumbuh di atasnya perlu adanya penambahan air. Penambahan air maksimal merupakan jumlah air yang dapat ditampung oleh tanah dan jumlah ini tidak semuanya dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tanaman, karena itu semua tanaman peka terhadap kelebihan air.  Dari data yang telah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa KL batas berubah warnanya memiliki rata- rata . Sehingga, tanah alfisol ini mempunyai harkat sangat tinggi.

 

  1. E.     pH Tanah
    1. Hasil Pengamatan

Tabel 4.5.1 pH Tanah

pH

H2O

KCl

Ctka Ø 0,5 mm

6,831

6,163

Sumber : Laporan Sementara

  1. Analisis Hasil Pengamatan
    1. pH H2O = 6,831 (agak masam) à Harkat rendah
    2. pH KCl = 6,163 (agak masam) à Harkat Rendah
    3. Pembahasan

Kemasaman tanah merupakan sifat kimia tanah yang mempengaruhi ketersediaan unsur hara dan juga memepengaruhi semua sifat tanah. Misalnya pada tanah yang basah bersifat masam, kandungan udara sedikit sehingga tidak cocok untuk menanam jenis tanaman yang harus ditanam pada tanah ber-pH netral sampai agak basa. Tujuan pengukuran pH tanah adalah untuk mengetahui tingkat kemasam dan kejenuhan basa pada sampel tanah sehingga dapat diketahui tingkat kesuburan tanah tersebut. 

Metode yang digunakan untuk menukur pH ada dua cara, yaitu secara elektrometrik dengan menggunakan pH meter dan secara volumetrik dengan menggunakan indikator warna, kertas pH, pH stick indicator dan kertas pH universal. Metode elektrometrik bersifat lebih akurat dibandingkan dengan metode volumetrik, karena dengan metode elektrometrik konsentrasi H+ larut dalam tanah diimbangi dengan elektroda hydrogen beku.

Praktikum analisis pH tanah kali ini menggunakan metode elektrometrik, yaitu dengan menggunakan pH meter dan pengukuran pH yang dilakukan dilakukan dua pengukuran, yaitu pH H2O sebagai pH aktual dan pH KCl sebagai pH potensial. Hasil yang diperoleh adalah pH H2O = 6,831 dan pH KCl adalah 6,163 dengan pengharkatan rendah. Karena sangat tergantung pada jenis mineral liat yang mendominasinya. Semakin tinggi pH tanah maka kapasitas pertukaran kation yang dimiliki oleh suatu sampel tanah juga semakin besar, pH tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik dalam tanah. Semakin tinggi pH tanah maka kadar bahan organik tanah tersebut juga tinggi, begitu juga dengan kandungan unsur hara. Untuk tanah alfisol ini memiliki kadar pH yang tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah karena berada sedikit di bawah pH netral, yang membuat kandungan bahan organik juga cukup.

  1. F.     Kapasitas Pertukaran Kation

                  1.  Hasil Pengamatan

      Tabel 4.6.1 Analisis Pertukaran Kation

Cc HCl

3,5 ml

N HCl

0,1 N

M tanah

10 gr

Sumber : Laporan Sementara

      2.  Analisis Hasil Pengamatan

          KPK =

              =

              = 14 cmol (+)/kg (rendah)

     3. Pembahasan

Pengertian dari Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) atau Cation Exchangable Capacity (CEC) adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada tiap 100 gram tanah atau kemampuan tanah untuk mengikat dan melepas kation-kation yang ada dalam tanah. Kapasitas pertukaran kation sangat berkaitan erat dengan ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan juga menjadi indikator kesuburan tanah. Nilai kapasitas pertukaran kation diperoleh dari perkalian antara volume HCl yang habis untuk titrasi dengan normalitas larutan HCl yang dipakai dan angka 4, kemudian dibagi dengan berat tanah dalam gram. Hasil pembagian tersebut dikalikan dengan 100.

Kapasitas pertukaran kation sangat penting perannya di dalam tanah baik dalam keterikatannya dengan ketersediaan hara bagi tanah yang menjadi indikator kesuburan tanah maupun dalam pengikatan agregat. Kapasitas pertukaran kation merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid yang bermuatan negatif.

Faktor yang mempengaruhi KTK adalah tekstur tanah, macam koloid,  presentase kejenuan basa, reaksi tanah dan kadar BO.

  1. Tekstur tanah : makin halus tekstur tanah maka makin tinggi nilai KPKnya
  2. Macam koloid : ketidakseragaman lempung dan humus merupakan faktor penting dalam kesuburan
  3. Presentasi kejenuhan basa
  4. Reaksi tanah : pada prinsipnya semakin banyak pH suatu tanah maka makin tinggi kapasitas tukar kationnya
  5. Kadar bahan organik : makin tinggi kadar BO tanah maka makin tinggi KPKnya

Percobaan yang dilakukan memberikan hasil nilai yaitu 14 dengan pengharkatan yang rendah. Sehingga tanah tersebut tidak  ideal untuk melakukan kegiatan pertanian khususnya pertanaman, karena dengan nilai KPK yang rendah, maka kandungan bahan organik tanah tersebut juga rendah, hal itu disebabkan karena dengan semakin rendah  KPK, maka nilai pHnya juga rendah. Nilai KPK yang baik adalah antara 17-24 yang berada pada range pengharkatan sedang. Kapasitas pertukaran kation dipengaruhi oleh bahan organik, yaitu semakin tinggi kadar bahan organik maka kapasitas pertukaran kation tanah juga semakin besar. KPK yang tinggi juga mempengaruhi kadar lengas dan kandungan hara tanah, semakin tinggi KPK maka kadar lengas tanah juga tinggi,begitu juga dengan kandungan hara dalam tanah yang juga ikut meningkat.

  1. G.    Bahan Organik
    1. Hasil Pengamatan

       Tabel 4.7.1 Bahan Organik

A (baku)

1,5 ml

B (blangko)

1,9 ml

KL (0,5 mm)

n FeSO4

Berat Tanah

19,4%

1

500 mg

       Sumber : Laporan Sementara

  1.  Analisis Hasil Pengamatan

        Kadar C  =

                  =

                  =

                  =  1,925 %(rendah)

 Kadar bahan organik        = 

                              =  3,318%

  1. Pembahasan

Bahan organik merupakan penimbunan yang terdiri dari pembentukan baru sisa dan sebagian dari pembentuakan baru sisa hewan dan tumbuhan. Fungsi bahan organik tanah adalah sebagai granulator yaitu untuk mempercepat proses pembentukan tanah, sebagai sumber unsur hara, sebagai reservoir dalam menahan air yaitu menambah kemampuan tanah dalam menahan air dan menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur hara. Bahan organik memiliki peranan penting dalam tanah yang diantaranya akan mempengaruhi sifat-sifat tanah baik kimia, fisika, maupun biologi tanah. Bahan organik yang dikandung tanah hanya sedikit. Kurang lebih hanya 3 – 5 % dari berat tanah dalam top soil tanah mineral yang mewakili. Bahan organik berperan sebagai pembentukan butir (granulator) dari butir-butir mineral yang menyebabkan terjadinya keadaan gembur pada tanah produktif. Bahan organik tanah berasal dari penimbunan sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan.

Dalam proses pembentukan tanah, bahan organik menjadi suatu bahan yang berfungsi mempercepat dan memperlancar proses pembentukan tanah karena sifat bahan organik yang seperti lempung yang mempunyai kemampuan sebagai perekat antar partikel tanah sehingga terbentuk suatu agregat tanah yang kuat. Oleh karena mempunyai peran-peran di atas maka bahan organik sangat penting bagi tanah dan tanaman dalam kegiatan pertanaman dan pertanian.

Analisis bahan organik pada praktikum kesuburan tanah dilakukan dengan metode titrasi, yaitu larutan tanah dengan beberapa zat kimia yang ditambahkan  dititrasi dengan larutan FeSO4 hingga warna larutan berubah menjadi hijau cerah. Volume FeSO4 yang dibutuhkan untuk titrasi digunakan untuk perhitungan kadar C dalam larutan tersebut, kemudian nilai kadar C digunakan untuk menghitung kadar bahan organik dalam tanah. Hasil yang diperoleh adalah kadar C = 1,925 %, dengan pengharkatan rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut hanya mengandung bahan organik yang sedikit yaitu 3,318%, sehingga kemampuan menahan airnya rendah dan kemampuan menahan unsur hara juga rendah. Kandungan bahan organik yang rendah juga mempengaruhi kandungan unsur N dan P di dalam tanah yang penting bagi tanaman, semakin sedikit kandungan bahan organik maka kandungan unsur N juga sedikit.

 

 

 

 

  1. H.    N, P dan K pada Tanah dan Tanaman
    1. N Total Tanah

a)    Hasil pengamatan

Tabel 4.8.1 Kadar N total tanah

A

0,4 gr

B

0,05 gr

KL

19,4%

N NaOH

0,1

Berat Tanah

500 mg

Sumber : Laporan Sementara

b)    Analisis Perhitungan

         Ntotal tanah           =

                        =

                        =

                        = 0,47%

c)    Pembahasan

Kadar Nitrogen, Phosphor dan Kalium dalam tanah digunakan sebagai indikator kesuburan tanah yang mempengaruhi kualitas tanah dan tanaman yang ditanam pada tanah tersebut. Meskipun demikian unsur-unsur tersebut tidak semuanya dapat disediakan oleh tanah secara optimal, jika kekurangan unsur-unsur tersebut biasanya petani melakukan pemupukan pada tanah dan tanaman. Nitrogen di dalam tanah berasal dari bahan organik, hasil pengikatan N dari udara oleh mikroba, pupuk dan air hujan. Unsur nitrogen ini salah satu yang mempunyai jumlah sedikit atau kandungannya rendah dalam tanah sehingga perlu ditambahkan pupuk pada setiap awal pertanaman. Unsur nitrogen juga bersifat dinamis, yaitu mudah berubah dari suatu bentuk menjadi bentuk yang lain serta mudah tercuci dan hilang bersama air drainase. Dari analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa kandungan N total dalam tanah alfisol adalah 0,47%.

  1. P Tersedia Tanah

a)    Hasil Pengamatan

Tabel 4.8.2 Kadar P total tanah

ppm P  Larutan Tanah

6,625

KL

19,4

Berat Tanah

1        gr

Sumber : Laporan Sementara

b)    Analisis hasil pengamatan

Ppm P              =

                              =

                              =

                                          = 26,10  ppm

c)    Pembahasan

Phosphor termasuk unsur hara primer yang berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah bersifat immobile atau tidak bergerak karena unsur P terikat oleh liat dan bahan organik, sehingga tanah jarang mengalami kekurangan unsur phosphor. Phospor (P) memiliki beberapa peranan, diantaranya adalah peranan dalam proses fotosintesis, proses metabolisme, pembentukan asam amino, pembentukan lemak dan belerang, oksidasi biologis, transfer energi, pertumbuhan tanaman, memperkuat batang tanaman, pembentukan buah dan biji, mempercepat pemasakan, serta berperan dalam pembentukan kualitas buah. Dari data hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa tanah alfisol tersebut mengandung 26,10  ppm. sehingga menunjukkan kandungan unsur P dalam tanah tersebut tinggi, Kandungan P total tanah rendah karena dipengaruhi kadar air yang lebih rendah dan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar dan hasil ini juga dipengaruhi oleh kadar bahan organik pada jenis tanah entisol yang rendah.

  1. K Tersedia Tanah

a)    Hasil pengamatan

Tabel 4.8.3 Kadar K total tanah

ppm K larutan

0,62

KL

19,4%

Berat Tanah

         2,5 gr

Sumber : Laporan Sementara

b)    Analisis hasil pengamatan

            K tersedia tanah          =

                                                =

                                                =

                                                = 1,491%

     K dalam cmol(+)/kg           =

                                                =

c)    Pembahasan

Unsur kalium dalam tanah bersumber dari mineral primer tanah, antara lain feldspar, mika, vermikulit, biotit dan yang lainnya. Selain bersumber dari mineral primer tanah, unsur K juga berasal dari bahan organik sisa tanaman yang telah mati dan seresahnya. Sama seperti unsur N dalam tanah, kalium juga bersifat mobile atau mudah bergerak sehingga mudah hilang oleh proses pencucian ataupun terbawa arus pergerakan air. Karena sifatnya yang mudah hilang tersebut maka efisiensi pupuk K yang ditambahkan pada tanah biasanya rendah. Untuk meningkatkan efisiensi pupuk K dapat dilakukan dengan melakukan pemupukan 2-3 kali dalam satu musim tanam. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa tanah alfisol tersebut mengandung 1,491% unsur K. Hasil ini mengindikasikan bahwa tanah tersebut mengalami kekurangan unsur K.

  1. I.       Isolasi Bakteri dan Fungi
  1. Hasil Pengamatan

Tabel 4.9.1 Isolasi Bakteri dan Fungi

Jenis tanah

Mikrobia

Pengenceran

Bentuk Koloni

Warna

Elevasi

Jumlah koloni

Keterangan

Gambar

 

Alfisol

 

Bakteri

10-4

 

10-5

 

10-6

Bulat

 

Bulat

 

Bulat pipih

Putih, orange, hitam

Coklat orange

 

Putih kekuningan (tulang)

Cembung, datar

 

Datar

 

Datar

72

 

Spider

 

14

 

 

 

Jamur

10-4

 

 

10-5

 

 

10-6

Bulat

 

 

Bulat

 

 

Bulat

Hitam, coklat, putih

 

Coklat, putih, hitam

 

hitam

Cembung

 

 

Cembung

 

 

Cembung

4

 

 

spider

 

 

spider

 

 

 

 

 

Entisol

Bakteri

10-4

 

10-5

 

 

10-6

circular

 

tidak beraturan

 

 

Bulat

Putih

 

kuning

 

 

kuning

cembung

 

cembung

 

 

Datar

 

Spider

 

1

 

 

Spider

Tidak terkontaminasi pada media NA

Jamur menyebar

 

 

 

 

Jamur

10-4

 

 

10-5

 

10-6

Irregular

 

 

Tidak beraturan

 

Bulat

Putih

 

 

kuning

 

Kuning

Cembung

 

 

Cembung

 

Cembung

1

 

 

30

 

spider

Jamur terkontaminasi

 

Jamur menyebar

 

 

 

r

 

Pada pra          Sumber : Laporan Sementara

  1. Pembahasan

Mikrobia adalah jasad yang sangat kecil ukurannya sehingga sukar dilihat tanpa mikroskop. Mikrobia yang berperan dalam kesuburan tanah antara lain bakteri, actinomycetes, khamir (yeast), jamur, algae, protozoa, dan sebagainya. Mikrobia yang bermanfaat akan dikembangkan dengan berbagai media yang berarti harus dilakukan isolasi dan inokulasi. Medium adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikrobia. Medium tersebut dapat digunakan untuk memperbanyak, menguji sifat-sifat fisiologi dan menghitung jumlah mikrobia. Inokulasi merupakan suatu usaha untuk mengasingkan mikrobia pada suatu media dengan cara memisahkan mikrobia dari habitat aslinya sehingga mikrobia dapat diamati morfologinya. Inokulasi adalah menanam isolat hasil inokulasi pada media biakan. Pada pengamatan ini medium yang digunakan adalah PDA (untuk menumbuhkan jamur) dan NA (untuk menumbuhkan bakteri).

Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.

Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan “jamur belah” (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, yang akan dibahas dalam artikel ini, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Bentuk umum jamur biasanya adalah seperti payung, walaupun ada juga yang tampak seperti piringan

Pada praktikum kali ini, dapat diketahui adanya kontamiasi pada pengenceran 104-106 mikrobia bakteri tanah alfsol dan pengenceran 104-106 mikrobia jamur tanah entisol. Kontaminasi merupakan suatu keadaan dimana terdapat campuran pertumbuhan antara bakteri dan jamur dalam satu media misalnya pada media pengenceran mikrobia bakteri juga terdapat jamur yang tumbuh disana, sehingga jamur merupakan kontaminan pada media tersebut. Bakteri dan jamur bisa dbedakan dari adanya benang-benang hifa, jika dalam tubuhnya tedapat benang-benang hifa maka termasuk jamur begitu juga jika tidak terdapat benang-benang hifa maka termasuk bakteri. Selain itu, pada praktikum ini diketahui bahwa semakin banyak pengenceran berpengaruh terhadap jumlah koloni yang tumbuh yaitu jumlah koloni semakin sedikit.

  1. J.      Omission Test
    1. Hasil Pengamatan

       Tabel 4.10.1 Omission Test pada Tanaman Jagung

No.

Jenis Tanah

Foto Gambar

Keterangan

1.

Tanah Entisol

 

 

 

 

 

 

 

NPK Lengkap

Tinggi, daun hijau, pertumbuhan bagus, batang besar tetapi tidak begitu kuat. Tinggi Tanaman :

Ulangan 1 = 118 cm.

Ulangan 2 = 129 cm.

Ulangan 3 = 113 cm.

 

         Kahat N

Kerutan pada daun dari tepi ke tengah. Tinggi tanaman :

Ulangan 1= 138 cm.

Ulangan 2 = 114 cm.

Ulangan 3 = 86 cm.

 

 

     Kahat P

Kerutan pada daun dari tengah ke tepi. Tinggi tanamn :

Ulangan 1 = 75 cm.

Ulangan 2 = 113 cm

Ulangan 3 = 120 cm.

 

Kahat K

Daun sedikit menggulung. Tinggi tanaman :

Ulangan 1 = 110 cm.

Ulangan 2 = 101 cm.

Ulangan 3 = 100 cm.

 

 

 

Kontrol

Batang lebih besar daripada alfisol. Tinggi tanaman 100 cm.

2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanah Alfisol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NPK Lengkap

Pendek, hijau daun lebih tua, batang lebih kuat. Tinggi tanaman :

Ulangan 1 = 104 cm.

Ulangan 2 = 80 cm.

Ulangan 3 = 85 cm.

 

Kahat N

Batang bagian bawah bengkok sehingga tumbuh bengkok ke atas, daun hijau menyeluruh. Tinggi tanaman :

Ulangan 1 = 90 cm

Ulangan 2 = 73 cm.

Ulangan 3 = 81 cm.

 

 

Kahat P

Batang ambruk atau mudah rebah, daun sedikit menggulung. Tinggi tanaman :

Ulangan 1 = 74 cm.

Ulangan 2 = 90 cm.

Ulangan 3 = 68 cm.

 

 

 

 

 

Kahat K

Batang mudah rebah. Tinggi tanaman :

Ulangan 1 = 79 cm.

Ulangan 2 = 70 cm.

Ulangan 3 = 87 cm.

 

 

 

Kontrol

Kerutan pada tepi-tepi daun, batang kecil. Tinggi tanaman 93 cm

3.

Tanah Pasir

 

NPK Lengkap

Paling tinggi diantara tanaman lain pada media pasir. Tinggi tanaman 65 cm.

 

Kahat N

Paling rendah, daun kekuningan. Tinggi tanaman 16 cm.

 

Kahat P

Ambruk, rendah, kecil. Tinggi tanaman 43 cm.

 

 

Kahat K

Ambruk, rendah, kecil, kekuningan. Tinggi tanaman 43 cm.

 

Kontrol

Hampir tidak tumbuh, kecil, roboh. Tinggi jagung 30 cm.

           Sumber : Laporan Sementara

  1. Pembahasan

Omission test adalah usaha percobaan untuk gejala kekahatan suatau tanaman terhadap  suatu unsur hara yang dapat dilakukan dengan metode element missing. Dalam praktikum ini tanah yang digunakan adalah tanah entisol, tanah alfisol, dan juga pasir.  Digunakan pasir karena pada pasir tidak terdapat unsur hara sehingga dapat terlihat jelas efek pada tanaman yang kekurangan suatu unsur hara. Hal ini untuk pembanding untuk tanaman alfisol dan entisol yang secara alami ada unsur hara yang terkandung di dalamnya.

Omisson test dalam praktikum ini menggunakan tanaman jagung   ( Zea mays). Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.

Siklus nitrogen merupakan siklus hara yang dominan. Nitrase-N dapat tercuci pada beberapa kondisi iklim dan cuaca. Terjadinya proses oksidasi dan reduksi utama pada nitrogen lebih komplek dibandingkan dengan phosfor. Proses siklus nitrogen terdiri dari eman proses utama yaitu : a) Fiksasi Nitrogen, b) Assimilasi Amonium, c) Ammonifikasi, d) Nitrofikasi, e) Reduksi Nitrat, f) Denitrifikasi.

Siklus phospor termasuk campuran organik phosfor, dalam bentuk PO43+ (phospat). Dalam hal ini phosfor termasuk campuran antara atom phosfat dengan oksigen. Phosfat akan mempengaruhi dan tergantung pada pH tanah, yang dalam hal ini merupakan asosiasi antara phosfat dengan H+, dalam bentuk asam phosfat H2PO43+.

Kalium merupakan unsur hara yang paling aktif  bergerak. Pada prosesnya kalium (K) diubah menjadi ion K+. Kalium dapat berupa unsur bebas, bentuk ion dalam tumbuhan, dan dalam hubungannya dengan serasah biasanya cepat bergerak dibandingkan dengan unsur lainnya. Pada tanah muda kecenderungan kehilangan unsur K+ adalah sebesar 5-10kg/ha akibat pencucian.

Nitrogen merupakan unsur mobil didalam tanaman, oleh karena itu gejala kekurangannya akan dimulai pada daun-daun yang lebih tua.  Gejalanya berupa menguningnya daun yang diawali oleh daun yang berada dibawah. Hal ini karena daun yang berada dibawah akan menyalurkan nitrogen ke daun yang diatasnya . apabila tanaman kekuragan unsur phospor, maka daun tanaman akan rontok.  Sebelumnya daun menunjukkan gejala muculnya warna kemerahan atau keunguan sebagai akibat pembentukan anthocyanin. Kekurangan unsur K ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/mengeringnya ujung dan pinggiran daun.  Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua.

Dari hasil pengamatan secara keseluruhan tanaman lebih bagus pada tanah entisol. Ditunjukan dari pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi, batangnya lebih besar dan jumlah daunnya lebih banyak. Hal ini karena tanah Entisols merupakan tanah yang masih muda perkembangannya. Secara umum, kandungan mineral primernya masih cukup banyak sehingga menunjang penyediaan unsur hara bagi tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                              V.            KOMPREHENSIF

 

Tanah yang teksturnya didominasi lempung mempunyai batas gulung tinggi. Hal ini terjadi dikarenakan lempung mempunyai daya plastisitas yang tinggi. Konsentrasi ion-ion hidrogen yang berkurang di dalam larutan terjadi bila pH meningkat, mendorong lebih banyak disosiasi ion-ion hidrogen dari hidroksil gugusan karboksil dan dengan demikian akan menghasilkan lebih banyak tapak yang bermuatan negatif atau kapasitas pertukaran kation. Tanah yang pH nya tinggi maka kejenuhan basannya juga tinggi . Tanah yang bertekstur lempung merupakan tanah dengan S negatif yang berarti tanah tersebut sukar merembeskan air dan nilai IP tinggi menyatakan bahwa kandungan lempung juga tinggi.

Bahan organik berpengaruh pada struktur tanah. Struktur tanah yang banyak kandungan BO merupakan tanah dengan tekstur remah. Struktur tanah re,ah adalah tanah yang cocok sebagai lahan pertanian. Pada proses dekomposisi akan melepaskan zat-zat hara ke dalam larutan di dalam tanah dan menjadikan bahan organik menjadi bentuk yang lebih sederhana dan bersifat koloid. Kondisi ini meningkatkan kemampuan absorbsi tanah yang berkaitan juga dengan Kapasitas Pertukaran Kation tanah karena meningkatnya luas permukaan partikel tanah. Mikroba akan meningkatkan kemantapan agregasi-agregasi partikel penyusun tanah. Mikroba dan miselianya yang berupa benang-benang, akan berfungsi sebagai perajut/perekat antar partikel tanah. Dengan demikian menyebabkan struktur tanah menjadi lebih baik karena ketahanannya menghadapi tekanan enodibilitas tanah.

Untuk mengetahui sifat kimia tanah digunakan ctka yang berukuran 0,5 mm karena pada ctka 0,5 mm mempunyai pori kecil tetapi jumlahnya banyak. Dan apabila akan direaksikan maka ctka 0,5 akan lebih cepat. Zat-zat yang terkandung akan lebih cepat tereaksi. Dan pada sifat fisika digunakan ctka 2 mm karena dalam sifat fisika dibutuhkan fraksi-fraksi pasir, debu dan lempung. Sedangkan pada ctka 0,5 mm hanya terdapat fraksi debu dan lempung.

Kadar N, P dan K pada tanah sangat dipengaruhi oleh BO dan pH. Pada BO tinggi kandungan NPK tanah juga tinggi, sedangkan pada pH yang netral kandungan NPK juga tinggi. Kekahatan salah satu unsur NPK pada tanah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Kekahatan N bisanya sangat telihat pada warna daun karena N merupakan penyusun klorofil, sedangkan P dan K terlihat pada pertumbuhan dan kekuatan batang karena keduanya perpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman serta kekuatan batang

 

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum tersebut dapat disimpulkan bahwa :

  1. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara fraksi atau partikel primer tanah berupa pasir (sand), debu (silt) dan lempung (clay).
  2. Berdasarkan analisis hasil pengamatan diperoleh fraksi pasir pada tanah tersebut adalah 2,713%, fraksi debunya adalah  21,889%  sedangkan fraksi lempung yang terkandung dalam tanah adalah 75,398%.
  3. Struktur adalah ikatan antar partikel atau fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat
  4. Dari analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dalam tanah alfisol tersebut memiliki berat volume 0,76 gr/cc.
  5. Tanah alfisol tersebut memiliki bobot jenis sebesar 54,86 gr/cc. Ini berarti tingkat kerapatan tanahnya tinggi atau pori-porinya kecil.
  6. Tanah alfisol ini memiliki tingkat porositas yang tinggi, yaitu 98,6%.
  7. Hasil KL pada ctka 0,5 mm, 2mm, dan bongkah secara berturut-turut yaitu 19,4%, 11,40% dan 16,66%.
  8. Dari analisis diperoleh hasil BC sebesar 65,519. Hal ini menunjukkan bahwa tanah alfisol mempunyai harkat batas cair yang  sangat tinggi.
  9. Dari hasil analisis, maka dapat diketahui rata – rata KL batas lekatnya adalah . Pada pengamatan ini, nilai batas lekat lebih kecil daripada batas cair, hal ini berarti bahwa tanal alfisol kadar plastisitasnya tidak terlalu besar.
  10. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa KL batas gulung tanah adalah 37,86%.
  11. Dari data yang telah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa KL batas berubah warnanya memiliki rata- rata . Sehingga, tanah alfisol ini mempunyai harkat sangat tinggi.
  12. Faktor yang mempengaruhi KTK adalah tekstur tanah, macam koloid,  presentase kejenuan basa, reaksi tanah dan kadar BO.
  13. Hasil yang diperoleh adalah kadar C = 1,925 %, dengan pengharkatan rendah.
  14. Dari analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa kandungan N total dalam tanah alfisol adalah 0,47%.
  15. Tanah alfisol tersebut mengandung unsur P 26,10  ppm.
  16. Tanah alfisol tersebut mengandung 1,491% unsur K. Hasil ini mengindikasikan bahwa tanah tersebut mengalami kekurangan unsur K.
  17. Mikrobia yang berperan dalam kesuburan tanah antara lain bakteri, actinomycetes, khamir (yeast), jamur, algae, protozoa, dan sebagainya.
  18. Omission test adalah usaha percobaan untuk gejala kekahatan suatau tanaman terhadap  suatu unsur hara yang dapat dilakukan dengan metode element missing.
  19. Nitrogen merupakan unsur mobil didalam tanaman.
    1. Saran
    2. Praktikum dilakukan tepat waktu
    3. Sebelum praktikum dimulai, assisten mengecek terlebih dahulu alat dan baha yang akan digunakan agar praktikum bisa berjalan dengan lancar.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: